Rabu, 26 Mei 2010

Khutbah Jumat

Sudah Bangkitkah Kita?
Materi Khutbah, 21 Mei 2010 di Masjid Siswa Graha DI Yogyakarta
Pada tanggal 20 mei 2010 bangsa Indonesia memperingati 102 tahun hari kebangkitan nasional atau yang disingkat harkitnas. Dalam kesempatan khutbah ini ada 2 catatan penting tentang harkitnas yang ingin kami sampaikan:


Pertama, aspek kesejarahan,
Penetapan harkitnas pertama kali dilakukan oleh cabinet Hatta (1948-1949). Tujuannya adalah membangkitkan kembali kesadaran nasional melawan pejajah. Untuk itulah diperlukan penentuan tanggal awal dan organisasi yang mempelopori timbulnya gerakan kebangkitan nasional pada abad ke-20an. Maka diputuskanlah Boedi Oetomo yang berdiri pada tanggal 20 mei 1908 sebagai tonggak sejarah kebangkitan nasional. Bukan syarikat Islam yang berdiri lebih awal yaitu 16 Oktober 1905. Padahal SI pada saat itu telah memiliki jaringan yang luas dengan anggota lebih dari 1 juta orang dari beragam etnis, dan yang terpenting memiliki cita-cita persatuan dan kemerdekaan dan pembebasan dari penjajahan. Sementara boedi Utomo saat itu hanya memiliki anggota sekitar 10ribu orang, Budi Oetomo juga menjadi sebuah organisasi elitis yang membatasi keanggotaannya hanya dari kalangan priyayi jawa, dan yang lebih ironis lagi oragnisasi ini tidak memimiliki visi kemerdekaan dari penjajahan Belanda karena sebagian anggotanya adalah para bangsawan yang diangkat dan digaji Belanda. Dalam aspek keagamaan organisasi ini juga menganut faham kejawen yang penuh dengan ritual syirik dan menganjurkan untuk tidak shalat. Berdasarkan fakta ini seorang pakar sejarah yaitu Ahmad Mansur Surya Negara dalam bukunya Api Sejarah I menyatakan ini adalah bentuk pengaburan sejarah dalam bentuk deislamisasi historis.
Catatan kedua, aspek empiris
Kenyataannya. Meski ’kebangkitan nasional’ sudah berjalan seabad lebih, dari tahun ke tahun, negeri ini bukan makin bangkit, tetapi justru makin terpuruk di segala bidang.
Sebagai contoh, di bidang pendidikan, hampir berbarengan dengan Peringatan Hari Pendidikan Nasional, kondisi dunia pendidikan di negeri ini boleh dikatakan makin menyedihkan. menurut data dari Kementerian Pendidikan Nasional, tahun 2010 ini sebanyak 267 sekolah tingkat SMA di seluruh Indonesia, 100% siswanya tidak lulus UN. Di tingkat SMP kondisinya lebih parah lagi; sebanyak 561 SMP/MTs di seluruh Indonesia, 100% siswanya juga dinyatakan tidak lulus UN. Kenyataan ini belum ditambah dengan makin mahalnya biaya pendidikan. Akibatnya, puluhan juta orang miskin tidak dapat sekolah
Di bidang hukum/peradilan, yang mengemuka akhir-akhir malah merajalelanya mafia hukum/peradilan. Di bidang politik/pemerintahan, kasus-kasus korupsi bukan malah berkurang, tetapi makin banyak dan beragam dengan berbagai modus. Wajar jika menurut survei PERC, tahun ini 2010 ini pun–sebagaimana tahun lalu–Indonesia masih memegang rekor sebagai negara terkorup di Asia Pasifik (Metronews.com, 10/3).
Di bidang ekonomi, negeri yang kaya-raya dengan sumberdaya alam ini pun masih menyisakan sekitar 100 juta penduduk miskin menurut kategori Bank Dunia (Okezone, 18/8/2009). Parahnya lagi, rakyat ini harus menanggung beban utang luar negeri yang tahun 2010 ini mendekati Rp 2000 triliun (Kompas.com, 16/5).
Lantas apakah makna kebangkitan yang hakiki? Pengarang kitab an nahdah al ustadza Hafidz Shalih mendefinisikan kebangkitan dengan:
النهضة هي انتقال أمة أو شعب أو فرد من حال إلى حال أفضل
Kebangkitan adalah peralihan umat, masyarakat atau individu dari satu keadan pada keadaan yang lebih baik (An Nahdhah hal. 4)

Untuk meraih kebangkitan meniscayakan adanya kebangkitan berfikir. Karena dengan berfikir terbentuklah pemahaman. Berdasarkan pemahaman inilah kemudian satu individu, masyarakat ataupun sebuah Negara akan berperilaku. Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (Ar – Ra’du [13]: 11)
Sedangkan factor mendasar yang harus difikirkan dan mendapatkan jawaban tuntas dan memuaskan adalah pertanyaan tentang dari mana kita, akan kemana kita setelah kematian dan apa tujuan hidup kita? 3 pertanyaan inilah yang disebut sebagai al ‘uqdatul kubra (simpul yang besar). Jawaban dari tiga pertanyaan ini akan menjadi guiden (pemandu) hidup kita. Eropa telah bangkit dengan menjawab 3 pertanyaan tersebut. Meski dengan jawaban yang tidak shahih, hingga akhirnya berpandangan sekular atau fashlu ad-din ‘anil hayah. Akibatnya mereka bangkit dalam aspek materi namun kering secara spiritual.
Jawaban yang shahih hanya ada dalam Islam. Islam menjawab bahwa manusia, alam semesta beserta isinya dan kehidupan adalah makhluk Allah al Khaaliq al Mudabbir dan bahwa manusia akan Allah hidupkan kembali untuk mempertanggung jawabkan seluruh perbuatannya. Allah berfirman:
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرّاً يَرَهُ
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (al zalzalah: 7-8)
Oleh karena itulah maka tujuan penciptaan manusia adalah semata-mata beribah kepada Allah: Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (az zariat [51]: 56)
Jawaban 3 pertanyaan ini termaktub dalam kalimat syahadat:
لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله
Maknanya adalah:
لا إله إلا الله، فهي تقرر أن لا معبود بحق إلا الله تعالى بوصفه الرب الخالق المدبر. فالإله هو المعبود، والعبودية هي الخضوع المطلق والتذلل الكامل وتفويض الأمر للمعبود
Pengakuan/keyakinan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah ta’ala dengan sifatnya sebagai Tuhan yang Maha Pencipta lagi Maha Mengatur. Al ilah adalah al ma’bud (yang disembah). Sedangkan ‘ubudiyah adalah Ketundukan mutlak dan ketundukan yang sempurna dan pemberian kekuasan secara penuh kepada pihak yang disembah
Berdasarkan definisi ini. Konsekuensi dari keyakinan bahwa tidak ada yang berhak untuk disembah selain Allah adalah tunduk patuh terhadap terhadap seluruh hokum-hukum yang Allah tetapkan, tanpa memilah dan memilihnya sesusai hawa nafsu kita. Allah berfirman:
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاء مَن يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat; tafsir depag) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat (Al Baqarah: 85)
Hanya denga aqidah yang benar, lurus dan mantap serta ketundukan total pada hokum-hukum Allahlah maka kita akan bangkit. Sejarah telah membuktikan dengan rahasia kebnagkitan ini bangsa arab yang jahiliyah dan terbelakang akhirnya mampu memimpin dunia. Kekuasaan islam terbentang di tiga benua, 2/3 bumi hidup dalam naungan hidayah Islam. Peradaban islam menjadi inspirasi bagi dunia. Barat bahka mengakui bahwa kemajuan peradaban (khususnya aspek materi) tidak terlepas dari jasa umat Islam. Saatnya bangkit dengan islam. Terapkan syariah, tegakkan Khilafah. Allahu Akbar
Wallahu ‘alam



Tidak ada komentar: